"Itu loh jeung, si Ifa bakal umrah bulan depan, hadiah dari abi-nya karena dia telah hafal Al-qur'an" Glek... !! Aku yang ikutan dalam perbincangan setelah tadarus di Musholla agak terhenyak dengan perkataan itu. Begitu indahnya hadiah itu, untuk suatu tindakan yang juga begitu mulia dan sulit dilakukan. Ifa memang putri seorang ustadz, dari keluarga yang sangat sederhana namun sangat kaya akan ilmu agama. Aku baru mengenal keluarga mereka semenjak tinggal di perumahanku sekarang ini. Aku menganggap ini adalah salah satu Hidayah dari Allah yang telah menunjukkan aku jalan menuju suatu kebenaran. Sedikit demi sedikit aku semakin mengenal mereka, keluarga Ustadz Yazid bin Jawaz, seorang ulama salaff yang cukup dikenal dan dihormati di Bogor khususnya dan di kalangan umat Islam dibeberapa negara umumnya. Beliau memiliki 1 orang istri dan 11 orang anak, bayangkan... 11 orang, bukan hal yang mudah bagi saya pribadi untuk mendidik anak sebanyak itu.. Yang terkecil berumur 4 tahun dan yang tertua kalau tidak salah sekitar 20 tahun. Istrinya sangat ramah dan baik, begitu juga dengan anak2 mereka. Saat berkunjung ke rumah beliau , yang saya lihat hanyalah ruang penuh buku untuk dijual, ruang perpustakaan pribadi tempat beliau menulis buku, ruang tamu tanpa kursi untuk tempat mengkaji dan menerima tamu beliau yang selalu ada, ruang tamu utk wanita yang memang dipisahkan, ruang keluarga tanpa sekat dan tidak akan terlihat adanya TV di sana, dan juga ruang lainnya yang tidak pantas saya masuki. Pernah saya bertanya pada istrinya bagaimana cara mengurus anak begitu banyak, namun beliau hanya tersenyum dan hanya menjawab dengan kata-kata "tidak usah repot2, mereka bisa melihat, mereka bisa belajar, mereka bisa sendiri dengan contoh yang jelas" . Saat itu aku masih tidak jelas dengan maksud perkataan itu. Namun lama kelamaan dan dari cerita para tetangga lainnya saya bisa mengetahui bahwa pendidikan di rumah ustadz adalah mencontoh dari apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Setiap pagi dan malam , ustadz dan anak2 prianya berjalan ke mesjid untuk sholat subuh, dan isya, yang perempuan semua dirumah. Sesampai dirumah, pagi hari semua membaca dan belajar Al-qur'an dan bahasa Arab dibawah bimbingan abi-nya. Sehari wajib hapal sekian ayat. Tidak ada paksaan , yang ada hanyalah pengertian dan pendidikan secara verbal dan tulisan . Semua disekolahkan di sekolah islam , sebelum anak2 seusianya bisa membaca al-qur;an, maka anak2 mereka sudah mampu menghapal Juz 'Amma. Subhanallah..... Belum lagi melihat kehidupan beliau... begitu sederhana... Dibalik tingginya ilmu beliau,beliau masih mau menyempatkan diri memberikan tausiyah pada kami 2 minggu sekali, mencoba menuntun kami menuju jalan yang sesuai dengan yang diajarkan Al-qur'an dan assunnah. Mencoba meluruskan hal2 bid'ah dan membimbing kami menuju kehidupan spiritual yang lebih baik. Bisakah aku hidup seperti mereka, dalam naungan islami yang sebenar2nya, mendidik anak2 kami menjadi anak sholeh, mengerti dan memahami serta menjalani apa yang ada di Al qur'an dan Hadist, dan menjalani hidup seperti apa yang Rasul & sahabat lakukan. Sementara untuk menghilangkan kebiasaan nonton TV saja sangat sulit aku lakukan, sementara membiasakan diri untuk mengucap kalam Illahi setiap hari saja pun begitu berat aku lakukan, sementara kehidupan duniawi masih begitu lekat menghiasi hari-hari kami. Hmmmm.... Semoga aku masih diberi nafas untuk bisa menjadi seperti mereka.....
 | *Semoga aku masih diberi nafas untuk bisa menjadi seperti mereka.....*
amiiin, alhamdulillah mbak eva sudah dipertemukan dengan keluarga tersebut, paling tidak kita jadi terpacu untuk mencontohnya. thanks for sharing ya mbak..
|
| |
|