PGMF Moms -- Mak-nya Putri, Ghifari, Maisaan dan Fadhl ..

Eva's posts with tag: aku & jiwaku

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag aku & jiwaku
Link: http://www.kajian.org/

Buat mempermudah mencari jadwal kajian2 islami...

Supaya hati dan diri selalu tersirami dengan ilmu yang bermanfaat...

Blog EntryKapan ya aku bisa menangis seperti itu .....Apr 23, '08 10:22 PM
for everyone
Beberapa hari ini aku rutin mendengarkan pembacaan ayat suci Alqur'an lewat radio Rodja
Dan ada satu momen yang membuat aku malu sekali... bagaimana tidak ,  ditengah2 alunan merdu pembacaan ayat suci Alqur'an , sang pembaca tersedak, menangis .. dengan tangisan dari hati yang begitu menyayat hatiku sendiri... Tangisan yang aku sendiri sukar mengucapkannya dengan kata, mungkin tangisan ketakutan , tangisan rasa syukur, tangisan rasa malu dan segala macam rasa yang menyuarakan betapa kecilnya kita sebagai manusia dibanding dengan segala anugrah yang telah diberikan oleh NYA.

Betapa indahnya menangis karena mengerti akan arti dari ayat2 suci Allah... menangis karena ketakutan yang terdalam .. menangis karena dosa yang telah kita perbuat, karena masih minimnya ladang amal yang telah kita tanam, menangis karena begitu indahnya kalam Allah.

Karena saat ini, tangisanku masih hanya untuk mengeluh padaMU, tangisanku masih hanya untuk menceritakan masalahku padaMU, tangisanku masih hanya untuk kepentingan duniawiku...

Betapa malunya aku...  begitu besar yang telah ENGKAU beri pada kami , namun terkadang kami lalai untuk bersyukur padaMU, kami hanya menangisi hal2 untuk menuntut terus dari MU, namun kami sendiri masih belum maksimal untuk menuntut ilmu dan beribadah pada MU.

Bahkan .. untuk membaca terjemah Al-qur'an aku suka tak sempat, aku masih membaca tanpa mengetahui arti didalamnya.Nikmat sekali kali ya bila aku bisa membaca sambil aku faham makna didalamnya, sehingga aku bisa menangisi segala kekuranganku , menangisi segala kelemahanku, menangisi segala rasa syukurku dan segala hal lainnya yang aku yakin akan menambah keyakinanku dan insya Allah nilai ibadahku.
Aku makin termotivasi untuk mempelajari bahasa Alqur'an dan aku mantapkan niatku lagi untuk kembali serius mempelajari tarjamah Alqur'an dan tafsirnya. Yaaa minimal 4 halaman setiap hari , dibandingkan untuk membaca koran dan novel kan....

Hingga suatu saat aku bisa seperti mereka.. menangis karena mengerti .. dan bukan karena ikut2an ....
ditengah perjalanan pulang ke rumah.

Blog EntryRela Pada Ketentuan AllahApr 2, '08 5:50 AM
for everyone

Rela Pada Ketentuan Allah

Oleh: Imam Asy-Syafi’i

Biarkanlah hari-hari berbuat semaunya
Berlapang dada-lah jika takdir menimpa

 

Jangan berkeluh-kesah atas musibah di malam hari
Tiada musibah yang kekal di muka bumi
Jadilah laki-laki tegar dalam menghadapi tragedi
Berlakulah pema’af selalu menepati janji

 

Jika banyak aibmu di mata manusia
Sedang engkau berharap menutupinya
Bersembunyilah engkau di balik derma
Dengan derma aibmu tertutup semua

 

Jangan pernah terlihat lemah di depan musuhmu
Sungguh malapetaka jika musuh menertawaimu

 

Jangan berharap dari orang kikir kemurahan
Di neraka tiada air bagi orang yang kehausan
Rizkimu tidak berkurang karena kerja wajar perlahan
Berlelah-lelah tidak menambah rizki seseorang

 

Tiada kesedihan yang kekal tidak pula kebahagiaan
Tiada kesulitan yang abadi tidak pula kemudahan

 

Jika engkau berhati puas dan mudah menerima
Sungguh, antara engkau dan raja dunia tiada beda

 

Barangsiapa kematian datang menjemputnya
Langit dan bumi tak kan mampu melindunginya

 

Bumi Allah begitu lapang luas membentang
Namun seakan sempit kala ajal menjelang

 

Biarkanlah hari-hari ingkar janji setiap saat
Kematian tak mungkin dicegah dengan obat


dIAMBIL DARI http://ummusalma.wordpress.com/2007/11/11/rela-pada-ketentuan-allah/#more-130

Hati... lagi lagi hati... begitu rentan, begitu mudah tergoyah, begitu mudah retak dan begitu mudah sakit.

Ada saja tingkah laku, perbuatan, sikap yang kadang disengaja ataupun yang benar2 tidak disengaja yang ternyata bisa memicu rasa sakit hati itu.

Setiap orang rasanya ingin sekali menghindar dari rasa ini, karena akibat yang ditimbulkannya juga membuat tidak nyaman dan bisa merusak banyak hal. Namun, kita hidup di masyarakat dengan berbagai macam sifat dan ini tentu saja rentan dengan ketidaksengajaan dan kekhilafan.

Sebab-sebab datangnya perasaan ini pun bermacam-macam. Dari masalah sepele hingga masalah besar, dapat menjadi pemicunya. Misalnya berawal dari perbedaan pendapat, adanya konflik atau ketidakcocokan, hingga iri dan dengki. Bila perasaan ini dibiarkan terlalu lama bercokol dalam hati, maka tidak sehatlah hati itu. Pemiliknya pun akan stress dan jauh dari keceriaan. Lebih jauh lagi, hal itu bisa menjauhkan manusia dari Rabb-Nya. Na’udzubillaahi mindzaalik.

Lalu, bisakah rasa itu kita atur sedemikian rupa sehingga tidak membuahkan dosa dan azab-Nya bagi kita sendiri? Allah dan Rasul-Nya telah mengajarkan kiat-kiat tersendiri yang dapat menjadi penawar, bila diamalkan.

Muhasabah (Koreksi Diri)

Sebelum kita menyalahkan orang lain, seharusnyalah kita melihat diri kita sendiri. Bisa jadi kita merasa tersakiti oleh saudara kita, padahal ia tak bermaksud menyakiti. Cobalah bertanya pada diri sendiri, mengapa saudara kita sampai bersikap demikian. Jangan-jangan kita sendiri yang telah membuat kesalahan.

Menjauhkan diri dari sifat iri, dengki dan ambisi

Iri, dengki dan ambisi adalah beberapa celah yang menjadi pintu bagi syetan untuk memasuki hati manusia. Ambisi yang berlebihan, dapat membuat seseorang buta dan tuli. Bila tidak dilandasi iman, seorang yang ambisius cenderung akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan ambisinya.

Demikian sifat iri dan dengki. Sifat ini berasal dari kecintaan terhadap hal-hal yang bersifat materi, kehormatan dan pujian. Manusia tidak akan tenang bila dalam hatinya ada sifat ini. Manusia juga tak akan pernah bisa bersyukur, karena selalu merasa kurang. Ia selalu memandang ke atas, dan seolah tidak rela melihat orang lain memiliki kelebihan atas dirinya. Maka hapuslah terlebih dahulu sikap cinta dunia, sehingga dengki pun sirna.

Rasulullah bersabda, “Tidak boleh dengki kecuali kepada dua orang. Yaitu orang yang diberi harta oleh Allah, kemudian memenangkannya atas kerakusannya di jalan yang benar. Dan orang yang diberi hikmah oleh Allah, kemudian memutuskan persoalan dengannya dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Menjauhkan diri dari sifat amarah dan keras hati

Bila marah telah timbul dalam hati manusia, maka kadang manusia bertindak tanpa pertimbangan akal. Jika akal sudah melemah, tinggallah hawa nafsu. Dan syetan pun semakin leluasa melancarkan serangannya, lalu mempermainkan diri manusia. Ibnu Qudamah dalam Minhajul Qashidin menyebutkan bahwa Iblis pernah berkata, “Jika manusia keras hati, maka kami bisa membaliknya sebagai anak kecil yang membalik bola.”

Menumbuhkan sifat pemaaf

“Jadilah engkau pemaaf, dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”  Demikian firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf: 199.

Allah sang Khaliq saja Maha Pemaaf terhadap hamban-Nya. Tak peduli sebesar gunung atau sedalam lautan kesalahan seorang hamba, jika ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan membukakan pintu maaf selebar-lebarnya. Kita sebagai manusia yang lemah, tidak sepantasnya berlaku sombong, dengan tidak mau memaafkan kesalahan orang lain, sebelum ia meminta maaf. Insya Allah, dengan begitu, hati akan lebih terasa lapang.

Rasulullah bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dimana engkau berada, tindaklanjutilah kesalahan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut menghapus kesalahan tersebut, dan pergaulilah manusia dengan ahlak yang baik.” (HR. Hakim dan At-Tirmidzi)

Husnudhdhan (berprasangka baik)

Allah berfirman, “Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan jangalah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat : 12)

Adakalanya seorang muslim berburuk sangka terhadap seorang muslim lainnya sehingga ia melecehkan saudaranya. Ia mengatakan yang macam-macam tentang saudaranya, dan menilai dirinya lebih baik. Tentu, itu adalah hal yang tidak dibenarkan. Akan tetapi, hendaknya setiap muslim harus mawas diri terhadap titik-titik rawan yang sering memancing tuduhan, agar orang lain tidak berburuk sangka kepadanya.

Menumbuhkan Sikap Ikhlas

Ikhlas adalah kata yang ringan untuk diucapkan, tetapi cukup berat untuk dilakukan. Orang yang ikhlas dapat meniatkan segala tindakannya kepada Allah. Ia tidak memiliki pamrih yang bersifat duniawi. Apabila Allah mengujinya dengan kenikmatan, maka ia bersyukur. Bila Allah mengujinya dengan kesusahannya pun ia bersabar. Ia selalu percaya bahwa Allah akan senantiasa memberikan yang terbaik bagi hambanya.

Orang yang ikhlas akan lebih mudah memenej kalbunya untuk selalu menyerahkan segalanya hanya kepada Allah. Hanya kepada-Nyalah ia mengantungkan harapan.

Sepertinya memang tidak mudah, tapi kita selalu harus berusaha dan berusaha untukmenjadi manusia yang lebih baik , dengan belajar dan belajar terus . Bila sedang dilanda sakit hati, cobalah amalkan kiat diatas. Insya Allah, beban hati akan berkurang. Dada anda pun terasa lapang. Insya Allah.

Love and Peace ....

Maraji’ :

  • Minhajul Qashidin. Ibnu Qudamah
  • Minhajul Muslim. Abu Bakr Jabir Al-Jazairi

Sumber : Majalah Nikah edisi 6/I/2002. hal. 32-33

diambil dari : http://safuan.wordpress.com/2008/01/25/manajemen-sakit-hati/


ReviewReviewReviewReviewKata2 HikmahFeb 6, '08 2:59 AM
for everyone
Category:Other
"Bila aku diam dan anda juga diam, maka bagaimana caranya orang-orang bodoh mengetahui kebenaran?"

(Imam Ahmad (Ahmad bin Hambal) rahimahullah)


===========================================================

"Kunci kebahagiaan dunia adalah ilmu, kunci kebahagiaan akhirat adalah ilmu, kunci kebahagiaan dunia dan akhirat adalah ilmu"

(Imam syafi’i (muhammad bin idris) rahimahullah)

Sumber : Media Ilmu

Blog EntryBelajar menerima kenyataan, walau itu sakit….Jan 29, '08 8:18 PM
for everyone
Impian, harapan, selalu diharapkan untuk menjadi suatu kenyataan.

Tantangan , cobaan, deraan, hinaan, selalu menjadi aral yang akan dihadapi untuk pencapaian kenyataan .

Kekuatan, ketabahan, kesabaran selalu akan menjadi tameng diri untuk bisa menerima kenyataan

Ketawakalan dan keikhlasan akan menjadi akhir dari suatu kenyataan.

Harus, harus dan harus

Tanpa ikhlas , akan lelah dirimu untuk terus mendumel

Tanpa Tawakal, akan letih jiwamu mencari dan terus bertanya

 

Kata orang, banyak jalan menuju Roma, ya jelaslah… Roma kan jauh…. Yg jelas aja nih, buat menuju pasar yg berjarak cuman 5 kilo pun bisa ditempuh dgn ratusan cara, apalagi Roma…. (intermezzo dikit ahhh)

Apalagi buat mencapai harapan dan keinginan… beribu cara mungkin bisa ditempuh, dan bukan ga mungkin cara yg ditempuh akan melalui cara yg unpredictable dan mungkin juga ternyata menyakitkan.

Lalu.. wajarkah bila kita tidak sadar bahwa itulah salah satu jalan itu,

Lalu kita merasa terhina dan tersinggung dengan apa yang menimpa diri kita?

Lalu diujung sempat terlintas , kenapa Tuhan memberi cobaan lagi..? Kenapa harapanku yang simple saja begitu sulit untuk terlaksana?

 

Tapi kita makhluk Tuhan yang berakal, yang memiliki iman yang tidak sedangkal itu untuk bersuudzon pada Tuhan

Tenangkan pikiran, mengadulah padaNYA

Insya Allah diberi jawaban…

 

Dan ya.. mungkin ini adalah salah satu jalan pahit untuk menggapai harapan

Mungkin ini adalah salah satu jalan agar aku bisa berhijrah

Jalan yang pahit ini harus diterima dengan sabar

Jalan yang pedih ini harus diikhlasi

Dan tetap keyakinan bahwa pasti selalu ada hikmah dari semua kejadian

Dan hanya bisa berharap semoga kenyataan segera terlaksana

Ya.. semua harus dijalani dengan keikhlasan…

 

Ikhlas …. Sering dipertanyakan …

Kata temanku, itu memang Cuma 6 huruf yang gampang diucapkan

Tapi kenyataannya apakah ada orang yang bisa benar2 melaksanakannya

Apakah disaat seorang yang kamu cintai diambil darimu tanpa sebab dan begitu tiba tiba lalu kamu bisa mengikhlaskannya

Apakah disaat seorang yang kamu sayangi direnggut darimu dengan cara yang tidak disangka lalu kamu bisa merelakannya,

Apakah disaat pekerjaanmu dipertanyakan orang dan dirimu difitnah lalu kamu bisa mendiamkannya

Apakah disaat orang menggunjingkanmu , lalu kamu bisa menerima dengan diam??

 

Lalu sampai dimana batas keikhlasan kita…

Apakah ada batas dari suatu keikhlasan …. Itu yang aku tanyakan

Karena bagiku, ikhlas ya ikhlas… ga usah dipikirin lagi, ga usah dipertanyakan lagi.. kamu harus bisa melepas, merelakan semua.

Saat anakmu sakit, ya ikhlas aja, dijalani, dicari jalan keluar, ga usah berburuk sangka pada siapapun

Saat orang yang kamu cintai meninggal, ya ikhlas saja, karena umur hanya sementara, dan kapanpun kita bisa meninggal kok, tinggal nunggu waktunya saja

Saat orang memfitnah kita, ya ikhlas saja, emangnya kamu harus gembar gembor membela diri? … time will tell the truth

Saat pekerjaan mu diambil orang , ya ikhlas saja, mungkin ditempat yang baru kamu malah bisa lebih tenang

 

Menjalaninya memang ga mudah…

Tapi ya mo gimana  lagi

Walau sakit tetap harus dilewati

Jadi… ya belajar terus lah untuk menerima kenyataan, walaupun dengan jalan yang menyakitkan….

 

Semoga peristiwa ini akan membawaku ketempat yang lebih membuatku  nyaman…..

Jakarta, 29-01-2008



Related link : Astaghfirullah , Kapankah waktu itu tiba ....,



Ayah, Ibu…sayangilah aku, bercandalah denganku..


Sebagai orangtua, patutlah kita memberikan kasih saayang kepada buah hati kita . Anak anak dilahirkan dari rasa sayang, sehingga patutlah kita membesarkan , mendidik dan membimbing mereka dalam nuansa kasih sayang itu.

Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa sallam adalah sosok pemimpin manusia yang sangat bersikap lemah lembut terhadap anak-anak kecil. Seperti kita ketahui beliau pernah menggendong Hasan di atas pundaknya, Beliau pun mengajak tertawa, membuka mulut dan menciumnya, serta memperlihatkan dia sedang bermain, lari ke sana ke mari. Setelah itu Nabi Shallallahu’Alaihi wa sallam pun menangkapnya. Subhannallah…

Bercerminlah dari Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa sallam... apa yang telah beliau lakukan kepada anak anaknya.
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan:
“Bahwasanya Rasulullah mencium Al-Hasan bin Ali kala itu Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi duduk di sisinya, Al-Aqra’ berkata: “Saya punya sepuluh orang anak namun tidak satu anakpun pernah saya cium!” Rasulullah menoleh kepadanya lalu berkata:مْ
“Barangsiapa yang tidak menyayangi niscaya tidak akan disayang!”

‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha meriwayatkan:
“Datang seorang arab badui menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ia berkata: “Apakah kalian mencium anak-anak? Adapun kami tidak mencium anak-anak! Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadanya:
“Sanggupkah kamu bila Allah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu!?”

Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam juga bersenda gurau dengan menjulurkan lidah beliau kepada anak-anak. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa ”Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam pernah menjulurkan lidahnya di depan Hasan bin Ali, lalu ketika Hasan melihat merah lidah beliau, ia segera mendekat kepada beliau”

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam selalu memberi motivasi kepada para orang tua dalam hal menyayangi anak-anak, hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Anas, ”Bahwa suatu ketika ada seorang perempuan datang ke rumah ’Aisyah Radhiyallahu’Anha lalu ’Aisyah memberikan tiga butir kurma kepadanya. Lalu perempuan itu memberikan masing-masing anak sebutir kurma sehingga ia menyisakan sebutir kurma untuk dirinya. Lalu kedua anak itu masing-masing memakan kurmanya sambil memandang kepada ibunya. Kemudian ibunya mengambil kurma itu dan membelah mejadi dua lalu ia berikan kepada masing-masing anak separuhnya. Kemudian datanglah Nabi Shallallahu’Alaihi wa sallam, lalu beliau diceritakan ‘Aisyah Radhiyallahu’Anha. Setelah itu beliau bersabda:

”Sungguh apa yang dilakukan perempuan itu membuat kamu terpesona. Semoga Allah mengasihi dia karena kasih sayang dia kepada kedua anaknya yang masih kecil”4
Subhannallah…

Lalu kenapa ada ibu-ibu yang tega menyiksa anak-anak mereka, padahal Allah akan mengasihinya bila ia menyayangi anaknya?.
Bisa jadi dikarenakan mereka tidak mengetahui keutamaan dalam Islam untuk menyayangi anak kecil. Sungguh mereka telah merugi… Allahua’lam… [Bintu Nashrun]

1. Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (X/426), Muslim (2318), Abu Dawud (XIV/129), At-Tirmidzi (1911), Ahmad (II/228, 241, 269, 514), Ibnu Hibban (2236), Al-Baghawi dalam Syarah Sunnah (XIII/34), dari jalur Abu Salamah dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu. At-Tirmidzi berkata: Hasan Shahih!
2 Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (X/426), Muslim ((2317), Ibnu Majah (II/390), Ahmad (VI/56-70), Al-Baghawi (XIII/34-35), dari jalur Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.
3 Al Silsilah As Shahihah, hal.70
4 HR. Bukhari, di dalam kitab Adabul Mufrad, kitabul Walidat Rahimat I : 89

Referensi:
Bekal-bekal Menuju Pelaminan, ,At-Tibyan Solo

Tumbuh di bawah naungan Illahi, Doa dan Kiat Nabi Shalallahu’alahi wa sallaam mendidik anak Sejak dalam Sulbi Ayah dalam Kandungan Ibu hingga Dewasa, syaikh Jamal Abdul Rahman, Penerbit Media Hidayah

disadur sebagian dari http://jilbab.or.id

Start:     Nov 4, '07 09:00a
Location:     Jakarta ISlamic Centre
Tabligh Akbar
Terbuka Untuk Umum

SUNNAH
Tetap Mulia Meski Mereka Menghujat

Bersama Ustadz ABU AHMAD ZAINAL ABIDIN

Merujuk Kitab 'ENSIKLOPEDI Penghujatan Terhadap Sunnah'

Ahad, 4 November 2007
09.00 WIB - Zhuhur
Jakarta Islamic Centre
Kramat Koja, Jakarta Utara

Kerjasama Jakarta Islamic Centre & TKIKA
Informasi 08161182781, 08121055891, 08158863543

Blog EntryWhat I've done this Ramadhan....Oct 10, '07 3:28 AM
for everyone

Ramadhan dah hampr berakhir....
Apa yang sudah aku lakukan untuk diriku ...
Apa yang sudah aku kerjakan untuk bekalku..
Masih kurang puas aku bertemu bulan ini..
Masih banyak asa yang tak terlampaui ..
Masih banyak harap yang ingin ku raih ...

Kadang aku takut tak dapat bertemu lagi ...
Aku takut tak bisa memenuhi kantong ibadahku...
Aku takut aku masih jauh dari sunnah MU
Aku takut aku masih mudah terganggu oleh duniaku

Ya Allah.. ijinkan aku bertemu lagi dengan Ramadhan ini,
Untuk lebih menyempurnakan ibadah dan membenahi diri
Dan aku jauh dari sifat duniawi
Untuk selalu bersujud dan mempertebal cinta hati

Aku ingin lebih baik dari hari ini ...
Selalu dan Selalu....
Semoga aku selalu dalam tuntunanMU ya Allah..

Idul Fitri akan tiba..
Saatnya berbuka, hati dan jiwa ..

TAQABBALLAHU MINNA WA MINKUM....





Blog EntryNgabuburit apa pamer ..???Sep 20, '07 4:26 AM
for everyone
Sejak bulan puasa ini, jalan menuju rumah jadi rame.. me....me...me....

Diatas jembatan tol banyak banget motor yang markir dan bergaya dengan muda mudi bertengger di pinggir jalan or diatas motor . Katanya sih ngabisin waktu menunggu buka..
Ngabuburit ya istilahnya ... ngabisin waktu sambil nunggu buka puasa ...
Hasilnya.... jalanan macet ... becanda becanda yg terkadang nyakitin hati...

muda mudi yg bukan muhrim berdekatan, nempel2an... pegang2an....

Pamer motor... pamer jam tangan ... pamer ini itu...

Blom lagi akibat yg dihasilkan...

jalanan macet... nyenggol mobil... nabrak orang yang lewat....

Astaghfirullah....

Banyak cara yng lebih mulia untuk menunggu waktu berbuka...

Banyak berdoa, berzikir... membaca Al-qur'an disaat2 ini adalah yg baik menurut ajaranNYA

Ngabuburit lah dengan cara yang lebih mulia
yang tidak mengganggu dan memperoleh pahala dari NYA

HMmmm.... semoga mereka diberikan keterangan hati ....


Blog EntryTarawih Pertama ..Sep 13, '07 4:05 AM
for everyone
Akhirnya aku bisa kembali merasakan tarawih berjamaan di musholla.
Sudah lebih dari 3 tahun aku ga melaksanakan tarawih berjamaan di mesjid, lantaran aku harus menjaga anak2 dirumah dan ga mungkin kan membawa anak kecil ke mushola, krn akan berdampak mengganggu jemaah yang lain. Selama ini aku menjalankan tarawih sendirian dirumah sebelum aku menyiapkan makanan untuk sahur dan rasa kangen untuk tarawih bersama2 itu sangat aku rasakan.

Akhirnya saat yang aku tunggu2 itu datang juga.. Saat ini aku sudah memiliki 2 asisten dirumah yang memungkinkan aku untuk pergi ke musholla dan menjalankan ibadah bersama Putri. Dari  siang kemarin dah berharap semoga tidak ada halangan, apalagi setelah tahu bahwa imam hari pertama adalah Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz... wah betapa rindunya aku untuk mendengarkan suara merdunya saat mengumandangkan ayat2 al-qur'an, memandu kami dalam menjalankan shalat, mendengarkan tausiah beliau yang penuh makna dan selalu mendasarkan pada Al-qur'an dan Hadist, dan melihat sekilas paras beliau yang begitu kharismatik dan bersahaja.

Alhamdulillah .. kami sempat juga tiba di rumah sebelum shalat Isya dan tepat jam 7 malam, aku dan Putri segera menuju Mushola , sementara bapaknya udah duluan untk membantu pengurus dalam mengatur jamaah. Betul saja... mushalla yang biasanya sepi, hari itu penuh dan ramai ... Alhamdulillah.... semua berdesakan dan keakraban sesama kaum muslim/muslimah sangat jelas terasa.

Sebelum shalat dimulai , Ustadz menjelaskan kembali tata cara shalat taraweh yang sesuai dengan yang dijalankan Rasul, antara lain :
- Jumlah rakaat yang dilakukan adalah 11 rakaat yg terdiri dari 4 kali 2 rakaat plus 2 + 1 rakaat  shalat witir
- Tidak ada ceramah sebelum shalat tarawih
- Surat yang dibacakan adalah ayat2 dalam Alqur'an yang isinya baik.
- Sebaiknya tidak membawa anak kecil yg belum bisa mandiri, untuk menghindari gangguan selama shalat.

Sholat terlaksana dengan tertib dan khusyu...  dan selesai jam 8.20 ...
Alhamdulillah .. semoga aku bisa menjalankan Ramadhan ini dengan sempurna dan bisa terus ikut taraweh ...



Blog EntryJadi orang anehAug 13, '07 4:29 AM
for everyone
Perubahan terkadang menimbulkan reaksi baik positif maupun negatif. Yang tersering aku rasakan adalah pandangan aneh atas suatu perubahan yang dilakukan untuk lebih baik.
Yang lebih baik menurut kita belum tentu dianggap normal bagi orang lain, dan yang ada hanyalah pandangan aneh dan gunjingan dibelakang...
Tapi... itulah cobaan ... Tidak ada yang mudah dalam menuju suatu kebaikan, disanalah kesabaran diuji , disanalah kekuatan istiqamah dipertanyakan, apakah engkau kuat untuk terus menjalani kebaikan itu, atau engkau akan mengikuti mereka yang bergunjing dan kembali ke dirimu sebelum perbaikan itu...
Ya... semua tidak mudah, hanya bisa berdoa pada Tuhan, semoga aku tetap diberi hidayah dan kekuatan, sehingga aku akan tetap bertahan dalam perubahan yang bagi diriku menuju suatu kebaikan.
Aku adalah aku, Apa yang aku lakukan, aku kenakan, aku ucapkan adalah apa yang aku yakini, apa yang aku ketahui dari ajaranku, dan aku akan jalankan sesuai perintahNYA..
Ya Allah kuatkanlah jalanku, ridhailah langkah hidupku... Amiinnn.....

Blog EntryTuntaslah kewajiban awalku..Jul 5, '07 3:39 AM
for everyone

Hari Minggu kemarin tepat 7 hari usia Fadhl , dan kami sudah menyelesaikan kewajiban kami sebagai orangtua terhadap anak kami sesuai dengan sunnah Rasul.

Hari ini kami telah melakukan aqiqah dan potong rambut fadhl serta membagikan hasil potongan kambing tersebut kepada warga kurang mampu didaerah kami. Kami sangat puas dan tenang karena masih diberi kemampuan untuk menjalankan kewajiban kami tersebut. Semoga kami tetap diberi karunia hidayah dariNYA dan tetap ditunjukkan jalan yang lurus sesuai kaidah Alquran dan Assunah. Dan semoga kami bisa mendidik anak2 kami, titipan NYA menuju jalan yang benar dan menjadikan mereka anak2 yang sholeh dan sholehah.

Amiinnn

 


Blog EntrySabar...Jun 8, '07 2:06 AM
for everyone
Kata yang satu itu emang gampang banget keucap dan memang kata itu merupakan kunci dari segala hal yang menyangkut kegiatan kita sehari hari.
Mudahkah ...? ihhhh susyah banget, tidak semudah mengucapkannya saat menenangkan orang lain yang sedang dalam masalah or menggumamkannya dalam hati saat melihat suatu kekerasan dalam aktivitas harian.
Mungkin orang yang sabar adalah orang yang patut diacungin 4 jempol sekaligus, yang menurut ku sih artinya dia telah benar2 bisa menguasai dirinya sendiri dan tidak menjadikan dia terlihat bodoh karena tindakan yang tidak sabaran.
Emang tidak ada satupun pendidikan mengenai kesabaran, semua berjalan seiring dengan kemampuan akan penguasaan emosi diri , dan terus tertimpa dengan kejadian sehari2 yang bisa meningkatkan or malah menipiskan tingkat kesabaran kita sendiri.

Dan bagiku..... Hmmmmmm.... ternyata yang orang anggap aku adalah orang yang penyabar tidak ada apa2nya, karena aku memang masih teramat sangat jauh dari sifat mulia itu. 
Bahkan hanya untuk menutup mulut untuk tidak mengkomentari hal yang buruk pun aku belum sanggup, bahkan untuk sabar menunggu antrian pun kadang aku masih tidak mampu, bahkan untuk mendengarkan celoteh semua orang disaat aku tidak mood pun aku tidak bisa.
Hanya bisa berusaha sebaik2nya dan mengingatkan diriku untuk tetap sabar.....
sabar untuk tidak bertindak gegabah,
sabar untuk tetap tersenyum disaat susah
sabar untuk menghadapi segala yang ada didepan mata
sabar untuk tidak mengucapkan kata2 keras terutama untuk keluargaku
dan sabar untuk diriku sendiri...

Ya Allah... berikanlah aku kesabaran ..... ajari aku dan bimbing aku selalu dalam jalan-Mu

Jum'at 8 Juni 2007,
yg masih belajar untuk menjadi lebih sabar



Start:     May 12, '07 08:00a
Location:     Di Mesjid Imam Ahmad bin Hanbal BaranangSiang BOGOR
Hadirilah!!!
Yayasan Minhajus Sunnah dan Qismul Muslimah menyelenggarakan
Dauroh Muslimah ke-10
“Menjadi Pribadi Muslimah yang Sholihah”
Sabtu-Ahad, 12-13 Mei 2007 Pukul 08.00-17.00 WIB
Di Mesjid Imam Ahmad bin Hanbal BaranangSiang BOGOR
KPP IPB BaranangSiang IV, Tanah Baru, BOGOR
Telp. 0251-318306
Pembicara :
Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawwas
Ustadz Fariq bin Gasim An-Nuz
Materi :
Aqidah & Manhaj
Adab Menuntut Ilmu
Fiqh Thoharoh
Adab Pergaulan
Karier Wanita
Fasilitas: Makalah, Makan Siang, Snack, Blocknote, Souvenir
Infaq : Rp. 20.000

Informasi : Wisma Hikmatunnisaa (0251) 627158 / 085280735325
Dilarang Membawa Anak Kecil dan Berjualan

Blog EntryAkhir kisah hidup manusiaApr 10, '07 5:40 AM
for everyone
Hari ini hasil dari blog walking, aku baru tahu kalo mba Inong telah meninggal dunia bulan Agustus lalu, emang secara personal aku blom kenal beliau, cuma pernah chatting and kakak kikik aja mbahas macem2. Setelah itu aku emang jarang online dan belom akrab sama dunia perblog-an, jadi emang blom tau siapa Inong sebetulnya.
Kaget... pastinya, langsung aku search semua blog-nya mba inong, baru tahu juga kalau dia sempat koma sebelum akhirnnya meninggal...
Semoga amal kebaikan nya dapat diterima disisiNYA, apa yang telah diperbuatnya sangat memberi manfaat bagi sesama.

Umur adalah rahasia Allah, tidak ada yg tahu kapan dia akan meninggal. Yang bisa dilakukan adalah selalu berbuat yang terbaik bagi dirinya dan orang lain sebagi persiapan untuk menghadapNYA.
Siapkah aku ...? Hmmmm... masih sangat jauh, saat ini aku masih dalam tahap belajar membenahi diriku dan ibadahku. Ya Allah berilah aku kesempatan untuk memperbaiki hidupku, ijinkan aku membesarkan dan mendidik anak2ku sesuai kaidahMU, tuntunlah aku selalu berada pada jalanMU, sabarkan aku, kuatkan aku, sayangi aku.... Aminnn..




Blog EntryRUMAH TANGGA YANG IDEALMar 20, '07 11:49 PM
for everyone
RUMAH TANGGA YANG IDEAL

Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=2079

Menurut ajaran Islam, rumah tangga yang ideal adalah rumah tangga yang diliputi sakinah (ketentraman jiwa), mawaddah (rasa cinta) dan rahmah (kasih sayang).
Allah Ta'ala berfirman.
"Artinya : Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)Nya ialah Dia menciptakan
pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan
merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan
sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
(kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir." [Ar-Ruum : 21]

Dalam rumah tangga yang Islami, seorang suami atau isteri harus saling memahami kekurangan dan kelebihannya, serta harus tahu pula hak dan kewajiban serta memahami tugas dan fungsinya masing-masing, serta melaksanakan tugasnya itu dengan penuh tanggung jawab, ikhlas serta mengharapkan ganjaran dan ridha dari Allah Ta'ala.
Akan tetapi, mengingat kondisi manusia yang tidak bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan, sementara ujian dan cobaan selalu mengiringi kehidupan manusia, maka tidak jarang pasangan yang sedianya hidup tenang, tenteram dan bahagia mendadak dilanda "kemelut" perselisihan dan percekcokan.
Apabila terjadi perselisihan dalam rumah tangga, maka harus ada upaya ishlah (mendamaikan).Yang harus dilakukan pertama kali oleh suami dan isteri adalah lebih dahulu saling intropeksi, menyadari kesalahan masing-masing, dan saling memaafkan, serta memohon kepada Allah agar disatukan hati, dimudahkan urusan dalam ketaatan kepadaNya, dan diberikan kedamaian dalam rumah tangganya. Jika cara tersebut gagal, maka harus ada juru damai dari pihak keluarga suami maupun isteri untuk mendamaikan keduanya. Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kepada pasangan suami isteri tersebut.

Apabila sudah diupayakan untuk damai sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur'an , surat An-Nisaa' ayat 34-35, tetapi masih juga gagal, maka Islam memberikan jalan terakhir, yaitu "perceraian".
Syaikh Musthafa Al-'Adawi berkata, "Apabila masalah antara suami isteri semakin memanas, hendaklah keduanya saling memperbaiki urusan keduanya, berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk, dan meredam perselisihan antara keduanya, serta mengunci rapat-rapat setiap pintu perselisihan dan jangan menceritakannya kepada orang lain.
Apabila suami marah sementara isteri ikut emosi, hendaklah keduanya berlindung kepada Allah, berwudhu' dan shalat dua raka'at. Apabila keduanya sedang berdiri, hendaklah duduk; apabila keduanya sedang duduk, hendaklah berbaring, atau hendaklah salah seorang dari keduanya mencium, merangkul, dan menyatakan alasan kepada yang lainnya. Apabila salah seorang berbuat salah, hendaknya yang lainnya segera memaafkannya karena mengharapkan wajah Allah semata." [1]
Di tempat lain beliau berkata, "Sedangkan berdamai adalah lebih baik, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta'ala. Berdamai lebih baik bagi keduanya daripada berpisah dan bercerai. Berdamai lebih baik bagi anak daripada mereka terbengkalai (tidak terurus). Berdamai lebih baik daripada bercerai. Perceraian adalah rayuan iblis dan termasuk perbuatan Harut dan Marut.
Allah Ta'ala berfirman.
"Artinya : "Maka mereka mempelajari dari keduanya (Harut dan Marut) apa yang
(dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka tidak
dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah."
[Al-Baqarah : 102]

Di dalam Shahiih Muslim dari Shahabat Jabir bin 'Abdillah Radhiyallaahu 'anhuma, ia berkata, "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas lautan. Kemudian iamengirimkan balatentaranya. Tentara yang paling dekat kedudukannya dengan iblis adalah yang menimbulkan fitnah paling besar kepada manusia. Seorang dari mereka datang dan berkata, 'Aku telah lakukan ini dan itu.' Iblis
menjawab, 'Engkau belum melakukan apa-apa.'' Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam melanjutkan, 'Lalu datanglah seorang dari mereka dan berkata, 'Tidaklah aku meninggalkannya sehingga aku telah berhasil memisahkan ia (suami) dan isterinya.'' Beliau melanjutkan, 'Lalu iblis mendekatkan kedudukannya. Iblis berkata, 'Sebaik-baik pekerjaan adalah yang telah engkau lakukan." [2]

Ini menunjukkan bahwa perceraian adalah perbuatan yang dicintai syaitan. Apabila dikhawatirkan terjadinya perpecahan antara suami isteri, hendaklah hakim atau pemimpin mengirim dua orang juru damai. Satu dari pihak suami dan satu lagi dari pihak isteri untuk mengadakan per-damaian antara keduanya. Apabila keduanya damai, maka alhamdulillaah. Namun apabila permasalahan terus berlanjut antara keduanya kepada jalan yang telah digariskan dan keduanya tidak mampu menegakkan batasan-batasan Allah di antara keduanya. Yaitu isteri tak lagi mampu menunaikan hak suami yang disyari'atkan dan
suami tidak mampu menunaikan hak isterinya, serta batas-batas Allah menjadi
terabaikan di antara keduanya dan keduanya tidak mampu menegakkan ketaatan
kepada Allah, maka ketika itu urusannya seperti yang Allah firmankan:
"Artinya : Dan jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya), Mahabijaksana." [An-Nisaa' : 130] [3]

Allah Ta'ala berfirman:
"Artinya : Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan
nusyuz[4], hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusah-kannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar. Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami isteri itu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti." [An-Nisaa' : 34-35]

Pada hakikatnya, perceraian dibolehkan menurut syari'at Islam, dan ini merupakan hak suami. Hukum thalaq (cerai) dalam syari'at Islam adalah dibolehkan.
Adapun hadits yang mengatakan bahwa "perkara halal yang dibenci Allah adalah thalaq (cerai)," yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2178), Ibnu Majah (no. 2018) dan al-Hakim (II/196) adalah hadits lemah. Hadits ini dilemahkan oleh Ibnu Abi Hatim rahimahullaah dalam kitabnya, al-'Ilal, dilemahkan juga oleh Syaikh Al-Albani rahimahullaah dalam Irwaa-ul Ghaliil (no. 2040).

Meskipun thalaq (cerai) dibolehkan dalam ajaran Islam, akan tetapi seorang suami tidak boleh terlalu memudahkan masalah ini. Ketika seorang suami akan menjatuhkan thalaq (cerai), ia harus berfikir tentang maslahat (kebaikan) dan mafsadah (kerusakan) yang mungkin timbul akibat perceraian agar jangan sampai membawa kepada penyesalan yang panjang. Ia harus berfikir tentang dirinya, isterinya dan anak-anaknya, serta tanggung jawabnya di hadapan Allah 'Azza wa Jalla pada hari Kiamat.

Kemudian bagi isteri, bagaimana pun kemarahannya kepada suami, hendaknya ia tetap sabar dan janganlah sekali-kali ia menuntut cerai kepada suaminya. Terkadang ada isteri meminta cerai disebabkan masalah kecil atau karena suaminya menikah lagi (berpoligami) atau menyuruh suaminya menceraikan madunya. Hal ini tidak dibenarkan dalam agama Islam. Jika si isteri masih terus menuntut cerai, maka haram atasnya aroma Surga, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam:
"Artinya : Siapa saja wanita yang menuntut cerai kepada suaminya tanpa ada alasan yang benar, maka haram atasnya aroma Surga." [5]

Abu Hurairah Radhiyallaahu 'anhu berkata,
"Artinya : Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam melarang: ... dan janganlah seorang isteri meminta (suaminya) untuk menceraikan saudara (madu)nya agar mem-peroleh nafkahnya." [6]

Marilah kita berupaya untuk melaksanakan pernikahan secara Islami dan membina rumah tangga yang Islami, serta berusaha meninggalkan aturan, tata cara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam. Ajaran Islam-lah satu-satunya ajaran yang benar dan diridhai oleh Allah 'Azza wa Jalla sebagaimana Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Artinya : Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam." [Ali 'Imran : 19]

"...Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pa-sangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa." [Al-Furqaan : 74]

Setiap keluarga selalu mendambakan terwujudnya rumah tangga yang bahagia, diliputi sakinah, mawaddah dan rahmah. Oleh karena itu, setiap suami dan isteri wajib menunaikan hak dan kewajibannya sesuai dengan syari'at Islam dan bergaul dengan cara yang baik

[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]

__________
Foote Note
[1]. Fiqhut Ta'amul bainaz Zaijaini (hal. 37).
[2]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2813 (67)).
[3]. Dinukil dari Fiqh Ta'amul bainaz Zaujaini (hal. 87-92) secara ringkas.
[4]. Nusyuz yaitu meninggalkan kewajibannya selaku isteri, seperti
meninggalkan rumah tanpa seizin suaminya.
[5]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2226), at-Tir-midzi
(no. 1187), Ibnu Majah (no. 2055), ad-Darimi (II/162), Ibnul Jarud (no.
748), Ibnu Hibban (no. 1320), ath-Thabari dalam Tafsiir-nya (no. 4843-4844),
al-Hakim (II/200), al-Baihaqi (VII/316), dari Tsauban radhiyallaahu 'anhu.
[6]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 2140), Muslim (no.
1515 (12)) dan an-Nasa-i (VII/258).

=======================

Syukur Alhamdulillah belum pernah terjadi pertengkaran hebat antara aku dan suamiku. Insya Allah segala masalah yang kami hadapi dapat kami atasi dengan kepala dingin dan tetap berlandaskan Al-qur'an dan hadist dan semoga keluarga kami mendapatkan Berkah, Ridha, dan selalu dalam tuntunanNYA.

Dengan namamu Ya Allah, lindungilah kami, jagalah kami dari segala hal yang tidak engkau ridhai. Terangilah rumah tangga kami dan ijinkan kami menjadi keluarga yang benar2 diliputi  Sakinah, Mawaddah, rahmah.. Aminnnn....




Blog EntrySEPULUH KESALAHAN DALAM MENDIDIK ANAKMar 14, '07 2:40 AM
for everyone

SEPULUH KESALAHAN DALAM MENDIDIK ANAK
Oleh
Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd
http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=2069&bagian=0

Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya.
Maka, kita sebagai orang tua
bertanggung jawab terhadap amanah ini. Tidak sedikit kesalahan dan kelalaian dalam mendidik anak telah menjadi fenomena yang nyata. Sungguh merupakan malapetaka besar ; dan termasuk menghianati amanah Allah.
Adapun rumah, adalah sekolah pertama bagi anak. Kumpulan dari beberapa rumah itu akan membentuk sebuah bangunan masyarakat. Bagi seorang anak, sebelum mendapatkan pendidikan di sekolah dan masyarakat, ia akan mendapatkan pendidikan di rumah dan keluarganya. Ia merupakan prototype kedua orang tuanya dalam berinteraksi sosial. Oleh karena itu, disinilah peran dan tanggung jawab orang tua, dituntut untuk tidak lalai dalam mendidik anak-anak.

BAHAYA LALAI DALAM MENDIDIK ANAK
Orang tua memiliki hak yang wajib dilaksanakan oleh anak-anaknya. Demikian pula anak, juga mempunyai hak yang wajib dipikul oleh kedua orang tuanya.
Disamping Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua. Allah juga memerintahkan kita untuk berbuat baik (ihsan) kepada anak-anak serta bersungguh-sungguh dalam mendidiknya. Demikian ini termasuk bagian dari menunaikan amanah Allah. Sebaliknya, melalaikan hak-hak mereka termasuk perbuatan khianat terhadap amanah Allah. Banyak nash-nash syar’i yang mengisyaratkannya. Allah berfirman.
“Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya” [An-Nisa : 58]
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhamamd) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” [Al-Anfal : 27]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
Artinya : Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung
jawaban terhadap yang dipimpin. Maka, seorang imam adalah pemimpin dan
bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya” [Hadits Riwayat Al-Bukhari]

“Artinya : Barangsiapa diberi amanah oleh Allah untuk memimpin lalu ia mati (sedangkan pada) hari kematiannya dalam keadaan mengkhianati amanahnya itu, niscaya Allah mengharamkan sorga bagianya” [Hadits Riwayat Al-Bukhari]

SEPULUH KESALAHAN DALAM MEDIDIK ANAK
Meskipun banyak orang tua yang mengetahui, bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab yang besar, tetapi masih banyak orang tua yang lalai dan menganggap remeh masalah ini. Sehingga mengabaikan masalah pendidikan anak ini, sedikitpun tidak menaruh perhatian terhadap perkembangan anak-anaknya.
Baru kemudian, ketika anak-anak berbuat durhaka, melawan orang tua, atau
menyimpang dari aturan agama dan tatanan sosial, banyak orang tua mulai
kebakaran jenggot atau justru menyalahkan anaknya. Tragisnya, banyak yang tidak sadar, bahwa sebenarnya orang tuanyalah yang menjadi penyebab utama munculnya sikap durhaka itu.
Lalai atau salah dalam mendidik anak itu bermacam-macam bentuknya ; yang tanpa kita sadari memberi andil munculnya sikap durhaka kepada orang tua, maupun kenakalan remaja.
Berikut ini sepuluh bentuk kesalahan yang sering dilakukan oleh orang tua
dalam mendidik anak-anaknya.
[1]. Menumbuhkan Rasa Takut Dan Minder Pada Anak
Kadang, ketika anak menangis, kita menakut-nakuti mereka agar berhenti
menangis. Kita takuti mereka dengan gambaran hantu, jin, suara angin dan
lain-lain. Dampaknya, anak akan tumbuh menjadi seorang penakut : Takut pada bayangannya sendiri, takut pada sesuatu yang sebenarnya tidak perlu
ditakuti. Misalnya takut ke kamar mandi sendiri, takut tidur sendiri karena
seringnya mendengar cerita-cerita tentang hantu, jin dan lain-lain.
Dan yang paling parah tanpa disadari, kita telah menanamkan rasa takut
kepada dirinya sendiri. Atau misalnya, kita khawatir ketika mereka jatuh dan ada darah di wajahnya, tangan atau lututnya. Padahal semestinya, kita
bersikap tenang dan menampakkan senyuman menghadapi ketakutan anak tersebut. Bukannya justru menakut-nakutinya, menampar wajahnya, atau memarahinya serta membesar-besarkan masalah. Akibatnya, anak-anak semakin keras tangisnya, dan akan terbiasa menjadi takut apabila melihat darah atau merasa sakit.

[2]. Mendidiknya Menjadi Sombong, Panjang Lidah, Congkak Terhadap Orang Lain. Dan Itu Dianggap Sebagai Sikap Pemberani.
Kesalahan ini merupakan kebalikan point pertama. Yang benar ialah bersikap tengah-tengah, tidak berlebihan dan tidak dikurang-kurangi. Berani tidak harus dengan bersikap sombong atau congkak kepada orang lain. Tetapi, sikap berani yang selaras tempatnya dan rasa takut apabila memang sesuatu itu harus ditakuti. Misalnya : takut berbohong, karena ia tahu, jika Allah tidak suka kepada anak yang suka berbohong, atau rasa takut kepada binatang buas yang membahayakan. Kita didik anak kita untuk berani dan tidak takut dalam mengamalkan kebenaran.

[3]. Membiasakan Anak-Anak Hidup Berfoya-foya, Bermewah-mewah Dan Sombong.
Dengan kebiasaan ini, sang anak bisa tumbuh menjadi anak yang suka
kemewahan, suka bersenang-senang. Hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli terhadap keadaan orang lain. Mendidik anak seperti ini dapat merusak fitrah, membunuh sikap istiqomah dalam bersikap zuhud di dunia, membinasakah muru’ah (harga diri) dan kebenaran.

[4]. Selalu Memenuhi Permintaan Anak
Sebagian orang tua ada yang selalu memberi setiap yang diinginkan anaknya, tanpa memikirkan baik dan buruknya bagi anak. Padahal, tidak setiap yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Misalnya si anak minta tas baru yang sedang trend, padahal baru sebulan yang lalu orang tua membelikannya tas baru. Hal ini hanya akan
menghambur-hamburkan uang. Kalau anak terbiasa terpenuhi segala
permintaanya, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak peduli pada nilai uang dan beratnya mencari nafkah. Serta mereka akan menjadi orang yang tidak bisa membelanjakan uangnya dengan baik.

[5]. Selalu Memenuhi Permintaan Anak, Ketika Menangis, Terutama Anak Yang Masih Kecil.
Sering terjadi, anak kita yang masih kecil minta sesuatu. Jika kita
menolaknya karena suatu alasan, ia akan memaksa atau mengeluarkan
senjatanya, yaitu menangis. Akhirnya, orang tua akan segera memenuhi
permintaannya karena kasihan atau agar anak segera berhenti menangis. Hal
ini dapat menyebabkan sang anak menjadi lemah, cengeng dan tidak punya jati diri.

[6]. Terlalu Keras Dan Kaku Dalam Menghadapi Mereka, Melebihi Batas
Kewajaran.
Misalnya dengan memukul mereka hingga memar, memarahinya dengan bentakan dan cacian, ataupun dengan cara-cara keras lainnya. Ini kadang terjadi ketika sang anak sengaja berbuat salah. Padahal ia (mungkin) baru sekali melakukannya.

[7]. Terlalu Pelit Pada Anak-Anak, Melebihi Batas Kewajaran
Ada juga orang tua yang terlalu pelit kepada anak-anaknya, hingga anak-anaknya merasa kurang terpenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya mendorong anak-anak itu untuk mencari uang sendiri dengan bebagai cara. Misalnya : dengan mencuri, meminta-minta pada orang lain, atau dengan cara lain. Yang lebih parah lagi, ada orang tua yang tega menitipkan anaknya ke panti asuhan untuk mengurangi beban dirinya. Bahkan, ada pula yang tega menjual anaknya, karena merasa tidak mampu membiayai hidup. Naa’udzubillah mindzalik


[8]. Tidak Mengasihi Dan Menyayangi Mereka, Sehingga Membuat Mereka Mencari Kasih Sayang Diluar Rumah Hingga Menemukan Yang Dicarinya.
Fenomena demikian ini banyak terjadi. Telah menyebabkan anak-anak terjerumus ke dalam pergaulan bebas –waiyadzubillah-. Seorang anak perempuan misalnya, karena tidak mendapat perhatian dari keluarganya ia mencari perhatian dari laki-laki di luar lingkungan keluarganya. Dia merasa senang mendapatkan perhatian dari laki-laki itu, karena sering memujinya, merayu dan sebagainya. Hingga ia rela menyerahkan kehormatannya demi cinta semu.

[9]. Hanya Memperhatikan Kebutuhan Jasmaninya Saja.
Banyak orang tua yang mengira, bahwa mereka telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Banyak orang tua merasa telah memberikan pendidikan yang baik, makanan dan minuman yang bergizi, pakaian yang bagus dan sekolah yang berkualitas. Sementara itu, tidak ada upaya untuk mendidik anak-anaknya agar beragama secara benar serta berakhlak mulia. Orang tua lupa, bahwa anak tidak cukup hanya diberi materi saja. Anak-anak juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Bila kasih sayang tidak di dapatkan dirumahnya, maka ia akan mencarinya dari orang lain.

[10]. Terlalu Berprasangka Baik Kepada Anak-Anaknya
Ada sebagian orang tua yang selalu berprasangka baik kepada anak-anaknya.
Menyangka, bila anak-anaknya baik-baik saja dan merasa tidak perlu ada yang dikhawatirkan, tidak pernah mengecek keadaan anak-anaknya, tidak mengenal teman dekat anaknya, atau apa saja aktifitasnya. Sangat percaya kepada anak-anaknya. Ketika tiba-tiba, mendapati anaknya terkena musibah atau gejala menyimpang, misalnya terkena narkoba, barulah orang tua tersentak kaget. Berusaha menutup-nutupinya serta segera memaafkannya. Akhirnya yang tersisa hanyalan penyesalan tak berguna.

Demikianlah sepuluh kesalahan yang sering dilakukan orang tua. Yang mungkin kita juga tidak menyadari bila telah melakukannya. Untuk itu, marilah berusaha untuk terus menerus mencari ilmu, terutama berkaitan dengan pendidikan anak, agar kita terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak, yang bisa menjadi fatal akibatnya bagi masa depan mereka. Kita selalu berdo’a, semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi shalih dan shalihah serta berakhlak mulia. Wallahu a’lam bishshawab.

[Disadur oleh Ummu Shofia dari kitab At-Taqshir Fi Tarbiyatil Aulad,
Al-Mazhahir Subulul Wiqayati Wal Ilaj, Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VII/1424H/20004M, Penerbit
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta.
Jl Solo – Purwodadi Km 8 Selokaton,
Gondangrejo – Solo]


Blog EntryBIsakah aku hidup seperti mereka ?Mar 12, '07 5:42 AM
for everyone
"Itu loh jeung, si Ifa bakal umrah bulan depan, hadiah dari abi-nya karena dia telah hafal Al-qur'an"
Glek... !! Aku yang ikutan dalam perbincangan setelah tadarus di Musholla agak terhenyak dengan perkataan itu. Begitu indahnya hadiah itu, untuk suatu tindakan yang juga begitu mulia dan sulit dilakukan.
Ifa memang putri seorang ustadz, dari keluarga yang sangat sederhana namun sangat kaya akan ilmu agama. Aku baru mengenal keluarga mereka semenjak tinggal di perumahanku sekarang ini. Aku menganggap ini adalah salah satu Hidayah dari Allah yang telah menunjukkan aku jalan menuju suatu kebenaran. Sedikit demi sedikit aku semakin mengenal mereka, keluarga Ustadz Yazid bin Jawaz, seorang ulama salaff yang cukup dikenal dan dihormati di Bogor khususnya dan di kalangan umat Islam dibeberapa negara umumnya. Beliau memiliki 1 orang istri dan 11 orang anak, bayangkan... 11 orang, bukan hal yang mudah bagi saya pribadi untuk mendidik anak sebanyak itu.. Yang  terkecil berumur 4 tahun dan yang tertua kalau tidak salah sekitar 20 tahun. Istrinya sangat ramah dan baik, begitu juga dengan anak2 mereka.
Saat berkunjung ke rumah beliau , yang saya lihat hanyalah ruang penuh buku untuk dijual, ruang perpustakaan pribadi tempat beliau menulis buku, ruang tamu tanpa kursi untuk tempat mengkaji dan menerima tamu beliau yang selalu ada, ruang tamu utk wanita yang memang dipisahkan, ruang keluarga tanpa sekat dan tidak akan terlihat adanya TV di sana, dan juga ruang lainnya yang tidak pantas saya masuki.
Pernah saya bertanya pada istrinya bagaimana cara mengurus anak begitu banyak, namun beliau hanya tersenyum dan hanya menjawab dengan kata-kata "tidak usah repot2, mereka bisa melihat, mereka bisa belajar, mereka bisa sendiri dengan contoh yang jelas" . Saat itu aku masih tidak jelas dengan maksud perkataan itu.  Namun lama kelamaan dan dari cerita para tetangga lainnya saya bisa mengetahui bahwa pendidikan di rumah ustadz adalah mencontoh dari apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Setiap pagi dan malam , ustadz dan anak2 prianya berjalan ke mesjid untuk sholat subuh, dan isya, yang perempuan semua dirumah. Sesampai dirumah, pagi hari semua membaca dan belajar Al-qur'an dan bahasa Arab dibawah bimbingan abi-nya. Sehari wajib hapal sekian ayat. Tidak ada paksaan , yang ada hanyalah pengertian dan pendidikan secara verbal dan tulisan . Semua disekolahkan di sekolah islam , sebelum anak2 seusianya bisa membaca al-qur;an, maka anak2 mereka sudah mampu menghapal Juz 'Amma. Subhanallah.....
Belum lagi melihat kehidupan beliau... begitu sederhana... Dibalik tingginya ilmu beliau,beliau masih mau menyempatkan diri memberikan tausiyah pada kami 2 minggu sekali, mencoba menuntun kami menuju jalan yang sesuai dengan yang diajarkan Al-qur'an dan assunnah. Mencoba meluruskan hal2 bid'ah dan membimbing kami menuju kehidupan spiritual yang lebih baik.
Bisakah aku hidup seperti mereka, dalam naungan islami yang sebenar2nya, mendidik anak2 kami menjadi anak sholeh, mengerti dan memahami serta menjalani apa yang ada di Al qur'an dan Hadist, dan menjalani hidup seperti apa yang Rasul & sahabat lakukan. Sementara untuk menghilangkan kebiasaan nonton TV saja sangat sulit aku lakukan, sementara membiasakan diri untuk mengucap kalam Illahi setiap hari saja pun begitu berat aku lakukan, sementara kehidupan duniawi masih begitu lekat menghiasi hari-hari kami.
Hmmmm.... Semoga aku masih diberi nafas untuk bisa menjadi seperti mereka.....


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help